Hahaa memalukan sekali masalah tari Pendet kemarin. I found it really strange that everyone and especially the media instantly (dan dengan penuh semangat) mencaci-maki Malaysia. How could they be so confident of their side of the story? Did it never occur to them to verify the so-called theft? Didn’t they think of the possibility that the blame might lie on Discovery? But nooo!! Nobody I talked to even think of the possibility. They vehemently declared that “Malaysia is once again out to steal our culture!!!” and they called on everyone to come join the hate wagon. So now Discovery has admitted that it was their mistake, what do you have to say? Nothing. And if anything, this incident only serves as a testament to your stupidity. Hehh. And what’s worse, pemerintah kita yang tercinta itu (hoekk) made an official protest to Malaysia about this matter. Can you imagine? They made a big fuss over nothing!! And this is the government for God sake!!! How can they made a mistake over something like that?? So what are you going to do now? Issue apology to Malaysia? Hahh..

Everyone should stop this hating game already. It’s been going on for too long and too far and nothing good will come of it..

Tiba-tiba pingin bahas ini. Gara-garanya I stumbled upon a blog (tahapa alamatnya, tak ingat aku :p) yang memaki-maki Malaysia soal angklung dan rasa sayange (dan mungkin ada lagi tapi gak kubaca karena dah malas).

Kebanyakan orang Indonesia membenci Malaysia karena menurut mereka Malaysia “mencuri” milik indonesia. Mengaku-aku sesuatu yang sebetulnya milik Indonesia sebagai milik mereka. Dan sayangnya pers Indonesia tidak berusaha mencari tahu the other side of the story. Mereka justru cenderung “mengompori” orang Indonesia.

Bodoh kali pun..!!! Terus kita marah-marah Malaysia “mencuri” budaya kita untuk apa? Emang kalo M’sia “mencuri” budaya kita does it mean we will lose our culture? I don’t think so. Terus emangnya kita sendiri apa yang telah kita lakukan terhadap item-item budaya itu? Kurasa mayoritas dari kita peduli juga nggak. Kalo dengan diaku Malaysia berarti item budaya itu diperhatikan, dipelihara, dan dilestarikan oleh pemerintah Malaysia bukannya bagus? Toh di Indonesia gak ada yang peduli. Analoginya seorang anak yang ditelantarkan oleh orangtuanya. Bukankah lebih bagus dia dibesarkan oleh orang lain? Meskipun orang itu bukan orangtuanya tapi kalau bisa memberikan kasih sayang dan bimbingan yang diperlukan si anak..?

My point is, orang Indonesia itu nampak kali bodohnya. Punya barang bagus gak pernah sadar. Mesti dicuri dulu baru sadar. Itu pun reaksinya gak guna. Marah-marah doang. Gak ada tindak lanjut. Jangan ditunjukkan kali la bodoh kau tu.. :( Stupid.. My nation is stupid. Sedih kali pun..