I was gonna rant on the outrageously bad “Halloween II” but on second thought I don’t think it even deserves my rants. ^^ I’ll just say this, spare yourself (and your wallet). DON’T watch it. Unless you want to know what a BADDDD movie is like. If it weren’t for the association with the Halloween series, it would have been a straight-to-video one. Seriously, it’s THAT bad. Now, even though I said it didn’t deserve my rants I did rant a bit on the movie so I guess I’ll continue this post to rant on my sworn enemy. :lol:

I used to hate people who smoke in public places so much I never thought I’d see the day something replaces them in my heart (halahh..). Turns out living in Jakarta has introduced me to the lowly species that is motorbike riders. I HATE them. I REALLY HATE them. I HATE them with all my heart. And if you’re a pedestrian in Jakarta then I’m sure that you will agree to at least some of what I’m saying.

Motorbike riders in Jakarta showed me that THEY, and not smokers, are the most selfish creature in this whole world, my world at least. I’m sure every pedestrian has had a rider honking him from behind when walking on the walkway. I’m sorry, I thought walkways are meant for pedestrians. Are you walking? No, you’re not. SO WHAT’S WITH THE HONKING??!!!!

Riders also NEVER stop even if they’re going to run into something. They don’t stop even if it seems they’re gonna collide with a car so there’s just NO way in hell that they’d stop for a pedestrian. As I mentioned before , I’ve had riders barely avoiding me at the intersection DURING THE RED LIGHT just because they won’t hit the brake. I’ve even had a rider actually running me over EVEN THOUGH I WAS CROSSING AT THE ZEBRA CROSS!!! Fortunately I survived the accident (dengan memar di sana-sini bak korban penganiayaan) with my head and all four limbs intact. Masih inget aku, motor kawasaki ninja (sedikit curhat ^^).

Yang bikin lebih sebel lagi, motor kalo nyelip-nyelip suka-sukanya aja. Tapi kalo dia kesenggol marah. Eh monyong!! Macam jalan neneknya aja dibikinnya.. Jujur, kalo ngeliat kecelakaan (yang 90% korbannya motor tentu saja) aku udah gak ada kasian sama sekali ngeliat pengendara motor yang jadi korban. Bukan apa-apa, kemungkinan besar he brought it upon himself.

I know, I know, not all riders are like that. But due the VERY HIGH frequency of my meeting an ass**** rider, I’ve adopted the principle “guilty until proven otherwise” ato kalo dalam bahasa Indonesia, “praduga bersalah”. Kalo elok laku dia, barulah aku menganggap “Oh, ini orang. Bukan pengendara motor.” kehkehkehh

No offense to riders reading this. Sukur-sukur pengendara motor yang baca ini agak bertobat dikit. Kalo ada orang lagi nyebrang dikasi lewat. Gak suka ngebut dengan motornya yang saking ributnya kayaknya kalo diukur mencapai desibel 100. Ato kalopun kelakuannya gak berubah setidaknya abis nabrak orang ada lah kepikiran dikit..

Watched the pilot episode of psych and I think I’m gonna watch the rest of season 1. It has its cliched scenes here and there but the story was interesting (bizarre is more like it I guess) and (the most important thing) funny without trying too hard to be funny. It’s not sitcom funny mind you, more like a one-hour series that has humor blended into it, like “Monk” (though I don’t like “Monk”). Which, reminds me of “How I Met Your Mother”, zealously promoted by a friend of mine. I gave it a try and turned out it’s just one of those run-of-the-mill sitcoms. The jokes were stale and the scenes felt too scripted. Or maybe I’m just past that age to watch sitcoms (mang ada?? :P )..

Iseng meng-google arti namaku. Siti = wanita, dan Halida = abadi. Berarti arti namaku = wanita abadi? Nama yang redundan kalo dipikir-pikir. Saya kan emang gak ada rencana jadi pria.. 8-)

Gilak ya pejabat Indonesia. Belum apa-apa dah mo naikin gaji aja. Hal pertama yang diurus malah begituan. Najongg… Amit-amit. Terus alasannya karena dibandingkan dengan gaji pejabat tinggi di negara-negara lain gaji pejabat Indonesia jauh lebih rendah. Bandinginnya ma mana tuh? Sama Singapura? Jepang? Jerman? Ya iyyalahh lebih rendah. Gaji karyawan Indonesia juga dibandingin ma gaji karyawan Singapura ya jauh lebih rendah. Kalo ngebandingin tuh sama Zimbabwe kek. Monyong. Bikin alasan yang bagusan dikit napa.
Kalo ampe beneran naik gaji kudoakan duitnya gak berkah. Sukur-sukur rumahnya kemalingan ato kebakar ato hal-hal jelek lainnya dahh.
Cihh kalo dah menyangkut pejabat pemerintahan memang selalu bikin cakap kotor.

Dia baru pertama kali ke terminal itu. Tempat yang ramai, bus dan angkot silih berganti keluar masuk. Calo berteriak-teriak menarik penumpang. Kakinya melangkah cepat, berusaha keluar secepat mungkin dari tempat itu. Setelah lama menunggu, angkot bernomor 37 lewat di depannya dan buru-buru ia naik dan meninggalkan terminal. Hufff lega..
Tiba-tiba terasa ada sesuatu yang menusuk kaki. Refleks dia langsung menunduk, melihat ke bawah bangku. Tidak ada apa-apa. Tapi dia yakin tadi kakinya tertusuk sesuatu yang cukup tajam. Jangan-jangan.. binatang???
Walaupun tidak yakin, dia tetap merasa cemas sehingga memindahkan kakinya. Kedua kaki diluruskan agar menjauh dari kursi. Tindakan yang salah ternyata. Tiba-tiba di ekor matanya dia melihat sebuah moncong kecil tepat di sebelah kaki kanannya, yang menempel dengan dinding belakang angkot. TIKUS!!! Ya, tikus, mancik, nezumi, rat, chui (dan entah apa lagi sebutannya dalam bahasa-bahasa lain), makhluk abu-abu yang identik dengan kotor dan penyakit. Dia langsung menghentakkan kakinya untuk menakuti si tikus. Wanita yang duduk tepat di depannya memandanginya dengan aneh. Dia hanya bisa berbisik, “tikus…” dengan nada terteror. Tetapi wanita itu tidak bereaksi apa-apa, mungkin di rumahnya sudah biasa menjumpai makhluk celaka itu.
Penampakan moncong kecil itu membuat adrenalinnya terpacu dan detak jantung meningkat pesat. Dia langsung siaga satu dengan pandangan terus-menerus menyapu lantai angkot, agar dapat sesegera mungkin mendeteksi kemunculan si tikus. Matanya tertumbuk ke sepatu kedsnya yang berwarna abu-abu. Kenapa tali sepatunya ada tiga?? Ketika dilihat lebih dekat ternyata itu adalah ekor si tikus yang entah bagaimana tanpa sepengetahuannya nongkrong dengan nyamannya di sepatunya. Jeritan tertahan dan hentakan kaki membuat seisi angkot melihat ke arahnya. Dan lagi-lagi dia hanya bisa berkata, “tikus..” tanpa bisa berkata lebih lanjut. Reaksi para penumpang, di luar dugaannya, benar-benar bertolak belakang dengan si wanita autis.
“AAAAAA!!!!! TIKUUSSSS!!!!”
“KYAAA!!”
“AAAA!!!”
“IIIIII!!!!”
Dua orang gadis bahkan langsung bangkit dan berada dalam posisi setengah-berdiri-setengah-duduk sambil terus menjerit-jerit selama kira-kira setengah menit saking paniknya. Dia sendiri, dari panik dan ketakutan, menjadi terkikik sendiri melihat reaksi seisi angkot. Supir angkot, mendengar kehebohan di belakangnya, menghentikan angkot.
“Apa? Ada apa?”
“Tikus bang..!!”
“Ah tikus aja..”(!!)
Jawaban si supir membuatnya tertawa ngakak. Dasar supir gak sopan!!
Sepanjang perjalanan suasana silih berganti tenang-panik (karena si tikus menampakkan dirinya)-tenang-panik sampai kemudian dia sampai di tujuannya.
“Kiri bang!”
Ketika dia melewati penumpang-penumpang lainnya untuk turun, mereka semua menyelamatinya,
“Wah, selamat ya mbak. Mbak udah aman.”
Dia pun tersenyum dan merasa bak juara lomba survival di tengah hutan.
Kalau dipikir-pikir, kenapa para penumpang itu tidak turun saja dan naik angkot yang lain? Ternyata mereka lebih memilih bersama tikus ketimbang membayar 2000 ekstra.. :lol:

Luv this movie. It’s an animation but not the childish type. Exciting, thrilling with interesting story. And one thing I really like from this movie is that it doesn’t have the preachy moment that every single Pixar movie seems to have. The downside is this movie is a bit short, only a little more than an hour but a pleasure to watch nonetheless. Though, keeping in mind that it’s short, I suggest you watch in weekdays since the weekend fare is a bit more expensive and may not seem worth it to some. :D

Usually I’m not bothered by it, tapi entah kenapa kemaren udah sampe ke ubun-ubun. I’m talking about the stupid low-class uneducated men yang kerjanya nyuit-nyuitin setiap cewek yang lewat di depannya. I was walking, minding my own business, when suddenly a stupid ugly (gak tau juga sih jelek apa gak, kulirik pun tidak..) boy (around high-school age I think) ngomong,
“Mau ke mana mbak?”.
Naturally, I didn’t answer, though I had this urge to look for the biggest rock around me. And naturally, of course, he continued his aggravating behavior,
“MBAK!! MBAK!! Mau kemana??!”
“**** off!!” (dalam hati doang)
Melihat gak ada tanggapan, ganti strategi dia,
“Assalamualaikum”
(Siiiinggg…)
“ASSALAMUALAIKUM”
AGGGGHHHH WHY DON’T YOU JUST DROP DEAD!!

supposed to post this yesterday, but slipped my mind saking keasikan donlot komik.. ^^
I’m gonna comment a bit about the uproar over the health minister thing. No, I’m not gonna criticize the new health minister because of her background. Nor am I gonna slam SBY for appointing her. Noo this post is dedicated for condemning the former health minister. Apa maksudnya ngomong-ngomong kayak gitu in a national television?? What was going in her mind? She will not gain anything by badmouthing her successor in front of the whole nation. She will only harm the whole nation because everyone will be doubtful of the successor and it will hinder her in doing her job. If she really has something to say then she should just tell SBY in person instead of saying it in front of everyone. And the ones harmed by this will be?? Indonesian people of course (duh) and the poor ones even more.

Oohhh the last chapter of Nodame is out. Now I can’t wait for the Indonesian edition to finish.. ^^

I take back what I said previously about Bloody Monday. It’s BOOORIINGG because the story’s got no substance whatsoever. The perfect example of a plot-driven manga. I groaned practically at every chapter due to the stupid plot. むかつく!!! :x Ughh.. Skipped to the last three chapters and I’m thankful that I did. Turned out the mangaka made another outrageous twist. Bah. I don’t think it deserves the previous 7.5. I doubt it even deserves 5 out of 10

Next Page »